Ilustrasi, sumber foto: AFP
Glx Tangkas - Dalam beberapa bulan terakhir, berita tentang bencana alam datang dari seluruh dunia. Seringkali bencana ini sangat mematikan dengan kerugian materi yang besar.
Di Eropa selatan terjadi kebakaran hutan, di Eropa barat, China dan Jepang terjadi banjir dan tanah longsor. Belum lagi gempa dengan skala mematikan yang melanda Haiti, Amerika Serikat (AS), serta Amerika Latin yang diterjang badai.
Baru-baru ini, dampak badai ida mengamuk di AS, kota New York harus terendam banjir.
Menurut World Meteorological Organization (WMO), salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani perubahan iklim dan lingkungan, bencana alam semakin sering terjadi. Lebih dari 2 juta orang meninggal akibat bencana tersebut.
Survei 11.000 bencana alam dalam lima dekade
https://twitter.com/pattrn/status/1433187243330572291?s=20
Pada Rabu (1/9/2021), WMO merilis laporan yang berisi gambaran menyeluruh tentang bencana alam yang terjadi selama lima puluh tahun terakhir. Laporan tersebut berjudul Atlas of Mortality and Economic Losses from Weather, Climate and Water Extremes (1970–2019).
Laporan tersebut menyatakan bahwa 11.000 bencana alam telah dipelajari antara periode 1970-2019, termasuk kelaparan di Ethiopia akibat kekeringan 1983 yang menewaskan 300.000 orang.
Menurut Al Jazeera, bencana alam ini akan terus berlanjut di masa depan. Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas mengatakan "kita akan melihat iklim yang lebih ekstrem karena perubahan iklim dan tren iklim negatif akan berlanjut selama beberapa dekade mendatang."
Dalam lima puluh tahun terakhir, bencana alam tampaknya semakin sering terjadi dan bahkan meningkat hampir lima kali lipat. Bencana semakin dipicu oleh perubahan iklim dengan cuaca ekstrim akibat pemanasan global.
Bencana alam semakin sering terjadi tetapi jumlah kematian semakin berkurang
https://twitter.com/rachjuramirez/status/1433123801278124033?s=20
Laporan komprehensif itu dikeluarkan tepat setelah AS dilanda badai Kategori 4 Ida dan Haiti dilanda gempa mematikan.
Melansir kantor berita Reuters, meski laporan WMO menunjukkan peningkatan bencana alam yang lebih sering terjadi, jumlah kematian akibat bencana justru menurun.
“Berkat peningkatan layanan peringatan dini, kita dapat mengurangi korban pada peristiwa semacam ini, tetapi kabar buruknya adalah kerugian ekonomi telah berkembang sangat pesat dan pertumbuhan ini seharusnya berlanjut,” kata Taalas.
Dikutip dari laman WMO, jumlah kematian menurun hampir tiga kali lipat dari puluhan ribu bencana yang disurvei. Angka tersebut turun dari sekitar 50.000 kematian pada 1970-an menjadi kurang dari 20.000 pada 2010-an.
Dari total sekitar 2 juta korban yang meninggal akibat bencana tersebut, lebih dari 91 persen berasal dari negara berkembang. Hanya setengah dari 193 anggota WMO yang memiliki sistem peringatan dini.
Jumlah kerugian akibat bencana semakin mahal
https://twitter.com/WMO/status/1433033358444011530?s=20
WMO juga menampilkan rata-rata kerugian material akibat bencana alam yang terjadi. Kerugian ekonomi yang diakibatkannya telah meningkat tujuh kali lipat dari tahun 1970-an hingga 2010-an dengan rata-rata kerusakan sebesar US$202 juta (sekitar Rp2,8 triliun) per hari.
Antara periode 2010-2019, kerugian ekonomi akibat bencana alam rata-rata US$ 383 juta (sekitar Rp 5,4 triliun) per hari.
BBC melaporkan tahun 2017 merupakan tahun paling mahal dalam bencana akibat Badai Harvey (mencatat kerugian US$96,9 miliar atau sekitar Rp1.379), Badai Maria (US$69,4 miliar atau sekitar Rp988,3 triliun), dan Badai Irma. (58,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 828,8 triliun).
Tiga badai melanda AS dan menyumbang 35 persen dari kerugian bencana alam teratas dalam lima dekade terakhir.
Perwakilan khusus Sekjen PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana, Mami Mizutori, mengatakan bahwa dunia membutuhkan investasi yang lebih besar dalam manajemen risiko bencana yang komprehensif.
“(Untuk) memastikan bahwa adaptasi perubahan iklim terintegrasi dalam strategi pengurangan risiko bencana nasional dan lokal,” katanya.

0 Comments